Amurang – Kabupaten Bandung Tetapkan Status Tanggap Darurat hingga 19 Desember, Banjir dan Longsor Terjang 14 Kecamatan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, Jawa Barat, resmi menetapkan status tanggap darurat bencana menyusul banjir dan longsor yang melanda belasan kecamatan sejak hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Kamis (4/12/2025).
Status tanggap darurat berlaku mulai 6 hingga 19 Desember 2025. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Wahyudin, mengatakan penetapan status tersebut dilakukan berdasarkan kondisi lapangan yang menunjukkan kerusakan meluas serta tingginya kebutuhan penanganan cepat. “Bupati menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan longsor di wilayah Kabupaten Bandung pada 6 Desember sampai dengan 19 December 2025,” ujarnya di Bandung, (08/12/2025). Keputusan itu tertuang dalam Keputusan Bupati Bandung Nomor 300.2.1/KEP.731-BPBD/2025 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat.
Penetapan status ini memungkinkan Pemkab Bandung mengerahkan sumber daya tambahan untuk evakuasi, distribusi bantuan, hingga penanganan kerusakan infrastruktur. Menurut BPBD, hujan lebat sejak Kamis sore memicu longsor di tujuh kecamatan, yakni Soreang, Cangkuang, Cimaung, Pasirjambu, Kertasari, Ciwidey, dan Arjasari. Sementara banjir merendam delapan kecamatan lainnya, yaitu Soreang, Bojongsoang, Banjaran, Dayeuhkolot, Margaasih, Katapang, Pameungpeuk, dan Baleendah.
Baca Juga : Angkot Seret Motor di Bandung, Modus Baru Perampasan oleh Sopir Mabuk

BMKG Bandung memprediksi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga akhir pekan, termasuk hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat. Kondisi itu membuat Pemkab Bandung meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana susulan. Status tanggap darurat berlaku mulai 6 hingga 19 Desember 2025. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Wahyudin, mengatakan penetapan status tersebut dilakukan berdasarkan kondisi lapangan yang menunjukkan kerusakan meluas serta tingginya kebutuhan penanganan cepat.
Di sisi lain, banjir terbesar terjadi akibat luapan Sungai Citarum yang merendam permukiman padat penduduk di Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah. Di Kecamatan Dayeuhkolot saja, BPBD mencatat sebanyak 9.246 keluarga atau 25.918 jiwa terdampak, dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 90 sentimeter pada sejumlah ruas jalan utama. Kondisi lebih parah terjadi di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, di mana ketinggian air mencapai 1,5 meter dan memaksa 99 keluarga atau 307 jiwa mengungsi. Di Kecamatan Baleendah, 1.873 keluarga atau 5.579 jiwa terdampak dan 63 keluarga harus meninggalkan rumah. Sementara di Kecamatan Bojongsoang, sekitar 3.000 jiwa dari tiga desa turut merasakan dampak luapan Sungai Citarum.









